Dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia persaingan bisnis e-commerce semakin ketat. Masing-masing perusahaan memiliki strategi yang berbeda-beda untuk merebut pasar yang ada di Indonesia. 

Hasil riset Momentum Works mencatat bahwa Indonesia masih menjadi pasar terbesar belanja online di Asia Tenggara. Sekitar 52% dari nilai produk yang dijual (gross merchandise value /GMV) di Asia Tenggara terjadi di pasar Indonesia.

Sampai tahun 2021 e-commerce di Indonesia didominasi oleh tiga pemain utama yaitu pertama Shopee menjadi e-commerce top of mind yang paling banyak digunakan, kedua ada Tokopedia dan selanjutnya yaitu Lazada. 

Melihat perubahan dalam cara konsumen berinteraksi dengan produk dan merek. Melihat kesempatan ini beberapa social media memperkaya fiturnya dengan menambahkan marketplace di dalam platformnya. 

Salah satunya Tiktok Shop yang diluncurkan pada 17 April 2021. Fitur ini adalah sebuah social commerce yang inovatif yang dapat menjangkau para penjual, pembeli, dan kreator untuk menyediakan pengalaman berbelanja yang lancar, menyenangkan, dan nyaman. 

Menurut data internal perolehan llaman The Information mengatakan bahwa, di tahun 2022 Gross Merchandise Volume (GMV) atau nilai total barang pada transaksi TikTok Shop di Asia Tenggara mengalami peningkatan hingga empat kali lipat sebesar US$ 4.4 miliar atau sekitar Rp66.7 triliun.

Dalam survei yang dilakukan oleh perusahaan logistik Ninja Van pada bulan November 2022, live streaming TikTok menduduki peringkat pertama dengan persentase 27,5%, mengalahkan Shopee yang berada di peringkat kedua.

Shopee sudah menjadi top of mind dalam e-commerce, namun munculnya tiktok Shop yang juga menjadi socia media platform populer apakah menjadi ancaman juga bagi Shopee maupun e-commerce lain? Dan bagaimana hal ini bisa terjadi?

Disinilah kita mengenal istilah Shoppertainment. Shoppertainment adalah konsep perdagangan yang berfokus pada konten yang menghibur dan edukatif, serta menyatukan konten dan komunitas untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang mendalam dan menyenangkan.

Pendekatan ini menciptakan cara yang menarik bagi brand untuk mengubah interaksi mereka dengan konsumen melalui format “video-first, sound-on”. 

“Pengalaman e-commerce selalu berkaitan dengan bagaimana memberikan penawaran terbaik untuk audiens yang tepat, seefisien mungkin. Namun, perilaku konsumen dalam membeli barang terus berkembang, dan saat ini mereka ingin mendapatkan kemudahan secara online. Kebanyakan orang tidak suka dipaksa untuk membeli, tapi mereka selalu suka dihibur,” kata Sam Singh, Vice President of Global Business Solutions, TikTok APAC. 

Konsep shoppertainment menawarkan bisnis untuk merangkul pendekatan berbasis konten, di mana merek dapat menghibur dan mendidik audiens mereka dengan mulus. 

Shoppertainment menggabungkan konten, budaya, dan aktivitas penjuala, memungkinkan merek untuk berinteraksi dengan pelanggan mereka selama pengalaman berbelanja tanpa mendorong penjualan secara terang-terangan. Akibatnya, merek dapat memenuhi kebutuhan fungsional dan emosional pelanggan mereka, membina hubungan yang lebih kuat dan lebih langgeng.

Di China, sumber yang sama menyebutkan bahwa pengguna menghabiskan 1,41 triliun yuan (setara Rp 3.208,4 triliun) untuk berbelanja di Douyin (aplikasi TikTok khusus di China) selama tahun 2022. Jumlah itu naik 76 persen dari tahun 2021.

Di Indonesia, konsumen sangat antusias mengadopsi shoppertainment sebagai bagian integral dari kegiatan berbelanja mereka. Dukungan untuk shoppertainment semakin berkembang di negara ini, terutama karena tingginya penetrasi smartphone dan permintaan yang tinggi terhadap konten dan kreator. 

Dalam sebuah studi, 83% responden dari Indonesia menyatakan bahwa mereka menonton video yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan pembelian. Selain itu, konten video juga memberikan pengaruh positif pada keputusan pembelian di kategori fesyen, kecantikan, dan elektronik, dengan lebih dari 50% responden yang terpengaruh.

Peluncuran TikTokShop telah menandai titik balik yang signifikan dalam cara orang berbelanja dan berbisnis, menghadirkan pengalaman belanja yang lebih interaktif dan mengasyikkan daripada platform e-commerce tradisional. 

Dalam TikTokShop, konsumen tidak hanya sekadar melihat galeri foto produk, tetapi mereka diberikan kesempatan untuk merasakan pengalaman belanja yang lebih hidup melalui video yang menghibur dan kreatif.
Dukungan yang diberikan oleh TikTokShop bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu aspek paling menonjol dari dampak positif yang dibawa oleh platform ini. Sebagai platform shoppertainment yang semakin populer, TikTokShop telah menjadi sarana yang bermanfaat bagi UKM, kreator konten, dan penjual lokal untuk meningkatkan eksposur dan jangkauan pasar mereka.

Penulis: Gadis Syahrani Elhakim

Sumber:

newsroom.tiktok.com

cnbcindonesia.com

Divisi Komunikasi dan Informasi

Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi

Universitas Tanjungpura 2022/2023


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *