Kata gempa bukan merupakan sesuatu yang terdengar asing lagi di telinga. Gempa atau yang kita sebut sebagai letusan gunung ini seringkali diidentikkan dengan “sesuatu yang buruk”, di Indonesia sendiri sudah mengalami aktivitas gempa yang semakin meningkat. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri oleh masyarakat Indonesia. Seiring berkembangnya teknologi, membuat para peneliti semakin gencar dalam melakukan penemuan alat deteksi yang sederhana sehingga menghadirkan sebuah aplikasi pendeteksi gempa yang diberi nama “MyShake”. Aplikasi ini dirilis pada tahun 2016 oleh para peneliti dari University of California di Berkley, Amerika Serikat.

MyShake menggunakan fungsi “Accelerometer” atau fungsi rotasi layar dan GPS pada telepon pinter untuk mendeteksi berapa besar guncangan di lokasi pengguna telepon pintar yang telah terinstal aplikasi tersebut. Dilansir dari laman techno, Senin (23/12/2019), aplikasi ini bekerja dengan cara memonitor pergerakan ponsel dan merekam getaran ketika terjadi gerakan seperti gempa. Tim peneliti membuat algoritma pada accelerometer untuk mengenali tanda-tanda gempa bumi yang terjadi. Peneliti pertama kali meminta 100 relawan di Berkeley untuk mencatat gerakan sehari-hari di ponsel mereka selama 6 bulan. Kemudian mereka membandingkan gerakan tersebut dengan pengukuran accelerometer gempa bumi yang disimulasikan dari telepon di meja guncangan dan data gempa bumi dari sensor seismik. Hasilnya algoritma dapat dengan cepat mengenali pola dan mengkategorikan semua gerakan sebagai gempa atau non-gempa.

Tentu selain dari kelebihan yang dimiliki, MyShake belum dapat dikatakan sebuah aplikasi yang sempurna karena saat ini MyShake hanyalah sebuah alat pengumpulan data dan akan menyimpan data tersebut di server untuk studi lebih lanjut. Richard Allen selaku Direktur Berkeley Seismological Laboratory mengungkapkan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengirimkan peringatan gempa dari deteksi smartphone saja. “Jika kami bisa melakukan itu, Anda dapat menerima peringatan dini gempa di manapun ada smartphone. Dan sekarang, smartphone selalu terdapat di manapun sehingga kita bisa melakukan peringatan dini gempa di seluruh dunia”.

Harapannya, berbagai kesulitan dan tantangan yang masih dihadapi oleh tim peneliti dapat teratasi dalam menyempurnakan MyShake sehingga kelak aplikasi ini dapat bertindak sebagai sistem pengertian yang memberikan pengguna peringatan sebelum gempa bumi terjadi dan membantu masyarakat meningkatkan respon terhadap gempa.

Divisi Komunikasi dan Informasi HMSI Universitas Tanjungpura Periode 2019/2020


Administrator

HMSI (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *