Daftar Isi
Bubble itu Apa?
Dalam ekonomi, fenomena bubble merujuk pada momentum ketika terdapat kenaikan secara cepat dalam nilai pasar dan harga suatu aset di suatu area, melebihi nilai intrinsik atau nilai seharusnya dari aset tersebut. Momentum ini dapat dipicu oleh spekulasi dan harapan yang terlalu tinggi pelaku pasar terhadap nilai aset tersebut. Ketika kepercayaan tersebut runtuh dan investor menarik dananya secara masif, bubble pun pecah dan memicu penurunan harga yang tajam (crash).
Bukan hanya suatu istilah, fenomena bubble pernah terjadi di dunia pada akhir 1990-an ketika masa awal pertumbuhan internet di mana euforia dan ekspektasi pertumbuhan internet yang pesat masih masif, sehingga investor terlalu berekspektasi tinggi pada nilai perusahaan berbasis internet (dot-com). Bubble yang terbentuk tersebut lalu pecah, membuat nilai perusahaan turun drastis dan mendorong perusahaan gagal serta kerugian besar bagi para investor.
Berdasarkan CNBC mantan Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Amerika Serikat, Jared Bernstein menjelaskan bahwa sebuah bubble ditandai oleh adanya kesenjangan yang lebar antara besarnya investasi yang masuk dengan “ekspektasi yang kredibel” terhadap keuntungan yang benar-benar dapat dihasilkan di masa depan.
Kekhawatiran serupa kini mulai muncul dalam perkembangan kecerdasan buatan. Mengutip laporan CNBC, Bernstein juga menyatakan bahwa lonjakan harga aset dan valuasi yang sangat tinggi menunjukkan bahwa terbentuknya AI bubble merupakan “hasil yang paling mungkin terjadi”.
Apa Pendorong AI Bubble?
Jika dilihat pada masa sekarang, teknologi kecerdasan buatan atau AI sedang mengalami perkembangan yang drastis, bahkan hingga memiliki banyak pengaruh pada ekonomi dunia. Perusahaan pun menaruh banyak harapan kepada bidang AI karena pertumbuhan ini, membuat value saham perusahaan teknologi pada bidang ini melebihi nilai yang seharusnya menurut sejumlah analis. Terjadi koreksi tajam harga saham-saham teknologi global khususnya di pasar saham Amerika Serikat yang sebelumnya mencatat rekor tertinggi akibat ekspektasi tinggi terhadap AI ini.
“Are we in a phase where investors as a whole are overexcited about AI?”
Berdasarkan MIT, CEO OpenAI yaitu Sam Altman menjawab pertanyaan tersebut, “My opinion is yes.”
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa investor terlalu bersemangat terhadap AI ini, mendorong terjadinya tanda-tanda pembentukan bubble, seperti valuasi tinggi tanpa profit, pola pendanaan berputar, dan struktur keuangan rumit.
Selain itu, menurut Presiden World Economic Forum (WEF) Borge Brende dalam laman CNBC, berpendapat bahwa optimisme yang berlebihan terhadap AI dapat menciptakan bubble baru jika tidak diimbangi dengan realisasi keuntungan nyata. Ia juga menyoroti dampak sosial dan tenaga kerja akibat gelombang otomasi yang terus meluas.
“Kita bisa saja melihat terbentuknya bubble dalam waktu dekat. Pertama adalah kripto, kedua AI, dan ketiga utang,” ujar Brende dalam kunjungannya ke Sao Paolo, Brasil pada pada November lalu.
Dalam situasi ini, para investor banyak mengalirkan uang pada perusahaan yang dianggap ‘pemain utama’ AI, walaupun belum tentu mereka memiliki model bisnis yang jelas atau profit yang stabil.
Dikutip dari CNBC, Bernstein juga mengatakan, “If you actually look at the AI investments, they tend to be a small share of the profits, so that actually contributes to the bubble hypothesis.”
Pernyataan yang ada menunjukkan terdapat kecemasan terhadap antusiasme berlebih dalam investasi AI, yang khawatirnya akan mendorong terciptanya bubble. Lalu seiring meningkatnya pengeluaran dan investasi pada AI, semakin banyak pihak yang mulai membicarakan pesatnya perkembangan AI, sekaligus kemungkinan terjadinya penurunan atau pecahnya bubble di masa depan.
Bubble di Situasi Ekonomi Sekarang
Pada bulan Juli, mengutip sebuah studi dari MIT disebutkan bahwa 95% perusahaan atau organisasi yang berinvestasi pada AI belum memperoleh keuntungan atau bahkan tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Saat ini terdapat lebih dari 1.300 startup AI yang memiliki valuasi di atas 100 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, 498 di antaranya telah berstatus unicorn, yaitu perusahaan dengan valuasi mencapai 1 miliar dolar AS atau lebih, menurut CB Insights.
Sementara itu, total belanja global untuk AI diperkirakan mencapai 375 miliar dolar AS pada tahun ini dan diproyeksikan meningkat menjadi 500 miliar dolar AS pada 2026, berdasarkan laporan UBS. Namun, menurut Treon, seorang kepala global di ING yang bertanggung jawab atas layanan perbankan privat, pengelolaan kekayaan, dan investasi, masih diperlukan waktu setidaknya lebih dari satu tahun untuk melihat apakah investasi besar tersebut benar-benar mampu menghasilkan keuntungan sesuai harapan.
Memang Dampaknya Apa Aja?
Menurut studi dari CloudComputing Id, salah satu alasan yang membuat AI bubble mengkhawatirkan banyak pihak adalah karena skala industri AI itu sendiri. Di mana pada bidang ini terjadi investasi masif pada chip dan GPU, pembangunan pusat data global, konsumsi energi dalam jumlah besar setara dengan 1,5% dari total konsumsi listrik global pada tahun sebelumnya menurut Badan Energi Nasional (IEA), serta infrastruktur server untuk pelatihan dan penggunaan model AI.
Dengan skala industri yang sedemikian besar, maka risiko ekonomi yang dihasilkan pun meningkat. Tetapi ketakutan terbesar bukan hanya soal nilai saham yang jatuh, tetapi juga efek domino ke aktivitas ekonomi. Jika AI bubble pecah, perusahaan yang telah menanamkan dana besar pada pembangunan pusat data berisiko menanggung utang tinggi, sementara dana investor tertahan sehingga menghambat pertumbuhan sektor lainnya.
Karena dilakukan dalam skala yang sangat besar, investasi di bidang AI membuat jutaan lapangan kerja, inovasi teknologi, dan pergerakan pasar saham ikut bergantung pada keberhasilannya. Jika terjadi koreksi besar atau penghentian investasi secara tiba-tiba, pertumbuhan ekonomi berisiko melambat. Dengan kata lain, pecahnya AI bubble berpotensi menyeret ekonomi global ke fase perlambatan karena sektor lain ikut tertahan sambil menunggu pulihnya kepercayaan pasar.
Perusahaan teknologi besar menginvestasikan dana dalam jumlah besar untuk membangun infrastruktur AI melalui pembelian perangkat keras dan pusat data, yang banyak dibiayai oleh investasi dan pinjaman. Jika AI bubble pecah dan keuntungan tidak tercapai, arus kas perusahaan bisa terganggu, investor akan menarik pendanaan, dan perusahaan menanggung utang besar yang berujung pada pemangkasan karyawan, penghentian riset, atau bahkan kebangkrutan.
Di sisi lain, Goldman Sachs mencatat bahwa belanja terkait AI menyumbang hampir seluruh pertumbuhan investasi korporasi Amerika Serikat sebesar 7% secara tahunan pada musim semi lalu. Namun, peningkatan investasi tersebut tidak diikuti oleh penguatan pasar tenaga kerja. CNBC melaporkan bahwa pada Agustus, penambahan lapangan kerja hanya mencapai 22 ribu, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,3%.
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell menyebut kondisi ini sebagai fase “PHK rendah, tapi perekrutan juga lesu”. Jika kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan lonjakan belanja AI, ketimpangan sosial berpotensi semakin melebar dan dapat menyulitkan The Fed dalam menjaga stabilitas inflasi serta penciptaan lapangan kerja (CNBC).
Apakah AI Bubble akan Pecah?
Meski kekhawatiran terhadap AI bubble terus meningkat, banyak analis menilai bahwa kondisinya tidak akan berujung pada kejatuhan besar seperti dot-com bubble pada tahun 1990-an. Berbeda dengan era tersebut, teknologi AI saat ini sudah cenderung menghasilkan keuntungan nyata. Perusahaan besar seperti Microsoft, Google, Nvidia, dan Amazon telah memperoleh pendapatan signifikan dari produk dan layanan berbasis AI, bahkan menjadikannya sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak semata didorong oleh spekulasi, tetapi juga memiliki dasar pasar yang jelas.
Selain itu, AI bukanlah tren sesaat, melainkan teknologi yang berpotensi mengubah berbagai sektor secara luas, mulai dari kesehatan, pendidikan, bisnis, hingga energi dan keamanan. Luasnya penerapan ini membuat banyak pihak memandang investasi besar di AI sebagai langkah jangka panjang yang diperlukan untuk transformasi industri global. Dalam konteks ini, investor kerap digambarkan berada dalam kondisi “bubble rasional”, di mana risiko disadari namun tetap diambil demi tidak tertinggal dari revolusi teknologi yang dapat menentukan arah ekonomi di masa depan.
Meski ada banyak kekhawatiran, sebagian besar analis percaya bahwa AI bubble tidak akan pecah secara dramatis seperti dot-com bubble.
Divisi Komunikasi dan Infomasi
Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Tanjungpura 2025/2026
0 Komentar