
Tahukah kamu bahwa dunia teknologi sedang berubah drastis? Kemunculan model AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, hingga Claude telah mengubah lanskap pemrograman secara fundamental. Bayangkan, tugas-tugas coding dasar yang dulu butuh waktu berjam-jam untuk kamu selesaikan, sekarang bisa dikerjakan AI hanya dalam hitungan detik. Presisi, cepat, dan tanpa kenal lelah.
Fenomena ini mungkin memicu pertanyaan di antara kita semua, seperti: “Jika kecerdasan buatan sudah bisa merancang basis data dan menulis kode, apakah jurusan Sistem Informasi masih relevan di tahun 2030?”
Jawabannya mungkin sedikit mengejutkan kamu, tapi justru sekaranglah era keemasan Sistem Informasi, asalkan para pelakunya berhenti overestimate sintaks.
Kesalahpahaman terbesar dalam satu dekade terakhir adalah menganggap pekerjaan di sektor teknologi hanya sebatas menerjemahkan logika manusia ke dalam bahasa mesin, biasanya yang kita sebut sebagai coding.
Jika definisi pekerjaan seorang profesional IT hanyalah menerima spesifikasi fitur lalu mengetikkan kode Python atau PHP, maka profesi tersebut memang sedang dalam guncangan. AI adalah “sumber daya” yang jauh lebih efisien dan murah. Ia tidak membutuhkan kopi, istirahat, atau tunjangan kesehatan.
Namun, Sistem Informasi (Sisfo) tidak pernah sekadar tentang coding. Sisfo adalah irisan krusial antara teknologi, manusia, dan proses bisnis. Di sinilah letak benteng pertahanan terakhir yang belum bisa ditembus oleh algoritma.
Ada tiga alasan fundamental kenapa jurusan Sisfo masih sangat relevan saat ini:
- AI sangat cerdas menjawab pertanyaan “Bagaimana” (How), tetapi sering gagal memahami “Mengapa” (Why). AI bisa membuatkan fitur login yang canggih dalam sekejap. Namun, hanya manusia dengan pemahaman Sistem Informasi yang bisa menganalisis: “Apakah fitur ini benar-benar dibutuhkan user? Atau justru akan menghambat konversi penjualan?” Kemampuan menerjemahkan kebutuhan bisnis yang abstrak menjadi solusi teknis yang konkret adalah skill yang belum dimiliki mesin, setidaknya untuk sekarang.
- Dalam pengembangan sistem, sering kali tantangan terbesar bukan pada kode yang error, melainkan pada komunikasi antarmanusia. Klien yang berubah pikiran, user yang resisten terhadap teknologi baru, atau konflik antar-divisi. AI tidak bisa memimpin rapat mediasi atau membaca yang tersirat dari keluhan klien. Soft skill dan manajemen perubahan (change management) menjadi nilai tawar yang tak ternilai.
- Di masa depan, coding akan menjadi komoditas murah, layaknya batu bata. Siapa saja bisa memilikinya. Namun, menyusun jutaan baris kode (batu bata) tersebut menjadi sebuah gedung pencakar langit digital yang aman, scalable, dan efisien membutuhkan seorang Arsitek. AI berperan sebagai tukang yang memasang bata dengan sangat cepat. Profesional Sisfo berperan sebagai arsitek yang memegang cetak biru (blueprint) dan memastikan bangunan tersebut tidak roboh saat badai trafik datang.
Oleh karena itu, kesimpulannya adalah narasi bahwa “AI akan menggantikan manusia” adalah penyederhanaan yang berbahaya. Kalimat yang lebih tepat adalah: “Manusia yang menggunakan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakannya.”
Sistem Informasi tidak sedang sekarat; ia sedang berevolusi. Pertanyaannya bagi para pelaku industri ini: Apakah kamu siap untuk mengikuti perkembangan teknologi, atau hanya menjadi penonton yang terpukau?
Sumber:
https://hbr.org/2023/08/ai-wont-replace-humans-but-humans-with-ai-will-replace-humans-without-ai
Divisi Komunikasi dan Infomasi
Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Tanjungpura 2025/2026
0 Komentar