Kontroversi kebijakan Whatsapp beberapa minggu lalu telah menuai banyak tanggapan dari masyarakat tak terkecuali orang terkaya di dunia, Elon Musk sang pemilik perusahaan mobil listrik Tesla dan roket Space.

          Pada tanggal 7 januari 2021, Elon Musk, baru-baru ini menyarankan aplikasi Signal ke pengikutnya (followers) di Twitter. “Pakai Signal”, twit Elon. Dan bukan pertama kali di promosikan tokoh penting, pada 2016 lalu, whistleblower fenomenal, Edward Snowden juga sempat menyebut aplikasi ini pada twitternya.

          Menurut laporan The Verge, setelah dipromosikan oleh Elon Musk, Signal kebanjiran pengguna baru sehingga membuat server mereka kepayahan dalam mengirimkan kode verifikasi untuk pengguna baru. Banjirnya pendaftaran pada Kamis lalu, tepat saat cuitan Elon Musk ter-publish sampai-sampai menyebabkan Signal menunda pengiriman kode verifikasi yang diperlukan untuk mengaktifkan akun pengguna baru. Namun demikian, lembaga nonprofit di balik aplikasi tersebut mengatakan sangat senang dengan lonjakan aktivitas.

          Naiknya pengguna Signal sepertinya belum meningkat secara signifikan di Indonesia, karna masih banyak yang tidak tahu-menahu mengenai aplikasi social media satu ini, sehingga masyarakat cenderung tetap memakai Whatsapp atau beralih pada sosial media yang lebih ternama lainnya. Jadi, mari kita kupas sedikit demi sedikit mengenai aplikasi yang baru naik daun ini.

          Signal adalah aplikasi perpesanan sebagaimana WhatsApp. Aplikasi ini bisa diunduh di platform Android maupun iOS dan tersedia pula untuk versi desktop. Sama-sama menyediakan perpesanan terenkripsi end-to-end secara gratis, artinya, seharusnya penyedia layanan, seperti Facebook, tidak dapat membaca konten pesan pengguna. Namun, PCMag menulis, Facebook adalah bisnis yang fokus pada menambang data orang, sebagian besar untuk tujuan penargetan iklan. Sementara Signal, di sisi lain, dijalankan oleh yayasan nirlaba yang menolak pendanaan modal ventura untuk mencegah keuntungan finansial mengarahkan fokusnya.

          Tampilan dan fitur yang secara keseluruhan serupa, sebenarnya tidaklah mengherankan bagi aplikasi Whatsapp dan Signal ini, mengingat keduanya dibuat oleh orang yang sama. Signal dikembangkan oleh Signal Foundation dan Signal Messenger LLC. Signal Foundation adalah lembaga non-profit yang didirikan oleh founder WhatsApp, Brian Acton pada tahun 2018, setelah dirinya hengkang dari Facebook Inc. Berbeda dengan WhatsApp, Signal dikembangkan dengan model swadaya. Pengguna bisa menjadi donatur untuk Signal Foundation yang menyebut ingin mengembangkan layanan komunikasi yang mengutamakan privasi.

          Dirangkum dari Cnet, agak sulit mengalahkan Signal dalam urusan privasi. Aplikasi ini disebut tidak menyimpan data penggunanya sama sekali. Hal ini juga diungkap Forbes yang memaparkan perbandingan metadata dari berbagai aplikasi perpesanan, seperti WhatsApp, iMessage, Facebook Messenger, dan Signal. Dari tabel yang ditampilkan, Signal tidak menghimpun data apa pun dari penggunanya, selisih yang jauh berbeda dari metadata yang dihimpun WhatsApp dan Facebook Messenger.

Dalam laman kebijakan privasinya, Signal mengklaim bahwa mereka menggunakan enkripsi ujung ke ujung (end-to-end encryption) dan sistem keamanan yang modern. Semua pesan dan panggilan pengguna akan dienkripsi sepenuhnya.

“Mereka (data pengguna) tidak akan dibagikan atau dilihat oleh siapapun kecuali anda dan penerima pesan,”

begitu catatan kebijakan privasi Signal. Tidak hanya pesan, informasi pengguna, termasuk nomor yang digunakan untuk registrasi, profil, dan foto profil juga akan dienkripsi. Pada 2018 lalu, Signal memperkenalkan Sealed Sender, fitur privasi mutakhir yang akan menyembunyikan siapa pengirim pesan dan siapa penerimanya. Fitur ini akan semakin melindungi metadata pengguna di sistem back-end.

          Seperti dikatakan sebelumnya, fitur-fitur di Signal persis seperti yang tersedia di WhatsApp, termasuk fitur dasar seperti pesan teks, gambar, video, suara, GIF, dan dokumen. Signal juga memiliki fitur mute, video call personal dan grup hingga lima orang. Ada pula fitur disappearing messages atau menghapus pesan otomatis yang baru-baru ini ditambahkan WhatsApp. Bedanya, di Signal pengguna bisa mengatur waktu kapan pesan otomatis terhapus, mulai dari 5 detik hingga 7 hari. Sementara WhatsApp hanya menyediakan default hapus pesan setelah 7 hari. Karena kemiripan fitur ini, kemungkinan besar pengguna WhatsApp yang hijrah ke Signal tidak akan menemukan kesulitan dalam beradaptasi.

Sumber :

Kompas. 2021. Mengenal Signal, Pesaing WhatsApp yang Diklaim Lebih Aman. https://tekno.kompas.com/read/2021/01/08/19280067/mengenal-signal-pesaing-whatsapp-yang-diklaim-lebih-aman?page=all. Tanggal diakses 27 Januari 2021.

Tempo. 2021. Kebijakan Baru WhatsApp, CEO Tesla Elon Musk Ajak Pindah ke Signal. https://tekno.tempo.co/read/1421288/kebijakan-baru-whatsapp-ceo-tesla-elon-musk-ajak-pindah-ke-signal/full&view=ok. Tanggal diakses 27 Januari 2021.

Divisi Komunikasi dan Informasi
Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi
Universitas Tanjungpura
2020/2021


Administrator

HMSI (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *