Pernah mendengar istilah vibe coding? Istilah ini bukan merujuk pada bahasa pemrograman atau konsep teknis yang rumit. Vibe coding merupakan pendekatan baru dalam pemrograman yang memanfaatkan large language model (LLM) atau lebih akrab kita kenal dengan AI sebagai asisten untuk menghasilkan kode program.
Singkatnya, ngoding tapi dibantu oleh AI, di mana programmer tidak lagi menulis seluruh kode secara manual, melainkan menyampaikan ide dalam bentuk narasi, lalu AI membantu menerjemahkannya menjadi kode yang dapat dijalankan.
Apa Maksud dari Vibe Coding?
Konsep ini mulai populer setelah Andrej Karpathy, seorang pakar AI yang pernah bekerja di Tesla dan OpenAI, membagikan sebuah unggahan di media sosial X. Jika dipahami, ia menggambarkan vibe coding sebagai proses berinteraksi santai dengan AI, memberikan perintah, menjalankan kode, melihat kesalahan, lalu mengulanginya kembali hingga program terbentuk. Dalam pendekatan ini, spesifikasi tidak selalu harus tertulis secara formal, karena ide utama sudah ada di kepala pengembang dan diwujudkan melalui proses iterasi.
There’s a new kind of coding I call “vibe coding”, where you fully give in to the vibes, embrace exponentials, and forget that the code even exists. It’s possible because the LLMs (e.g. Cursor Composer w Sonnet) are getting too good. Also I just talk to Composer with SuperWhisper so I barely even touch the keyboard. I ask for the dumbest things like “decrease the padding on the sidebar by half” because I’m too lazy to find it. I “Accept All” always, I don’t read the diffs anymore. When I get error messages I just copy paste them in with no comment, usually that fixes it. The code grows beyond my usual comprehension, I’d have to really read through it for a while. Sometimes the LLMs can’t fix a bug so I just work around it or ask for random changes until it goes away. It’s not too bad for throwaway weekend projects, but still quite amusing. I’m building a project or webapp, but it’s not really coding – I just see stuff, say stuff, run stuff, and copy paste stuff, and it mostly works. (Sumber unggahan akun X @karpathy)
Maka, vibe coding dapat dipahami sebagai proses ketika programmer mengekspresikan ide-idenya kepada AI, lalu AI berperan sebagai asisten yang membantu mengubah ide tersebut menjadi dasar kode fungsional, sekaligus menawarkan solusi atas permasalahan yang muncul. Pendekatan ini sejalan dengan mindset “code first, refine later”, di mana fokus utama adalah membangun terlebih dahulu, kemudian menyempurnakan hasilnya. Hal tersebut membuat pengembangan kode program terutama pada tahap prototipe menjadi lebih hemat waktu dan efisien.
Bagaimana Alur Kerjanya?
Seperti yang disebutkan sebelumnya, dalam vibe coding, AI berperan sebegai asisten programer. Peran dimulai dari penyusunan prompt berupa narasi ide. AI kemudian menghasilkan kode implementasi berdasarkan instruksi tersebut. Kode ini dapat langsung dijalankan untuk melihat kekurangan atau kesalahan yang muncul, dan dikembangkan kembali. Dari hasil tersebut, kita dapat memperbaiki bagian tertentu, atau menyesuaikan prompt agar hasilnya lebih sesuai. Atau bahkan, AI dapat memberikan saran pengembangan dan juga memperbaiki kode itu sendiri berdasarkan prompt yang diberikan. Melalui proses iterasi ini, pengembangan program menjadi lebih fleksibel dan kreatif, just vibing the vibe.
Tentu ada banyak platform AI yang dapat digunakan untuk menerapkan vibe coding, tergantung pada kebutuhan yang ada. Setelah memilih AI yang sesuai, langkah berikutnya adalah menyusun prompt yang jelas, terarah, dan kontekstual. Prompt yang baik sebaiknya menjelaskan tujuan, fungsi, serta hasil yang diharapkan dari program. Semakin spesifik instruksi yang diberikan, semakin akurat pula kode yang dihasilkan.
Kode awal yang dihasilkan AI umumnya masih bersifat dasar dan hanya bersifat prototipe. Oleh karena itu, proses refinement menjadi tahap penting. Pengguna dapat memperbaiki struktur, logika, maupun tampilan kode dengan memperjelas instruksi atau memberikan koreksi tambahan. Tahap terakhir adalah peninjauan akhir, di mana kode yang telah disempurnakan dievaluasi kembali sebelum digunakan dalam implementasi atau peluncuran aplikasi.
Apakah Manusia Masih Diperlukan dalam Vibe Coding?
Meskipun AI memiliki peran besar, manusia tetap memegang kendali utama dalam pendekatan vibe coding ini. AI hanya menghasilkan kode berdasarkan perintah yang diberikan. Pada akhirnya, faktor kreativitas, penentuan tujuan, serta kemampuan berpikir kritis tetap berada di tangan manusianya. Vibe coding sangat membantu dalam pembuatan prototipe dan pengujian awal aplikasi, namun tetap memerlukan optimalisasi agar kualitas kode tetap terjaga.
Di sisi lain, pendekatan ini juga memiliki keterbatasan. Untuk sistem yang kompleks, hasil kode dapat menjadi tidak terstruktur dan sulit dipahami, terutama setelah melalui banyak proses revisi. Kondisi ini berpotensi menyulitkan proses pemeliharaan dan pembaruan sistem. Selain itu, aspek keamanan juga menjadi perhatian penting karena AI tidak selalu memperhatikan validasi dan celah keamanan secara menyeluruh. Oleh sebab itu, kode yang dihasilkan tetap harus diperiksa, diuji, dan dievaluasi kembali oleh manusia.
Dengan pendekatan baru ini, vibe coding menawarkan cara baru dalam memandang proses pemrograman, bukan sebagai aktivitas teknis semata, tetapi sebagai proses kreatif yang dibantu oleh AI. Dengan pendekatan yang tepat, metode ini dapat mempercepat pengembangan aplikasi dan membuka peluang inovasi yang lebih luas. Namun, tanpa pengawasan dan pemahaman yang baik, vibe coding juga berisiko menghasilkan kode yang kurang optimal. Karena itu, peran manusia tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan hasil pengembangan.
Sumber:
Divisi Komunikasi dan Infomasi
Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Tanjungpura 2025/2026
0 Komentar