Sejak minggu lalu Platform Facebook menjadi pelampiasan warganet lantaran kebijakannya yang terlalu responsif membatasi unggahan terkait Palestina. Media sosial ini terus mendapatkan ulasan bintang satu dan kritik negatif pada kolom komentar dari warganet, sebagai bentuk protes terhadap raksasa media sosial ini terkait konflik Israel – Palestina.

          Berdasarkan pantauan hmsifmipauntan.com, Senin (24/5), pukul 07.13 WIB terkini, rating aplikasi Facebook di Play Store hanya 2,4 dari poin penuh 5 dengan lebih dari 115 juta ulasan. Sedangkan di App Store Indonesia, rating Facebook hanya 2 dari 5 dengan 77,8 rb Penilaian.

          Menurut laporan, banyak unggahan yang dibagikan oleh para pengguna mengenai kekejaman Israel diblokir oleh Facebook. Hal ini dianggap tidak adil dan membatasi kebebasan informasi, serta berpendapat dari orang-orang di seluruh dunia. Terlebih lagi platform media sosial ini juga menghadapi tuduhan penyensoran. Pekan lalu, BuzzFeed News melaporkan Instagram milik Facebook telah secara keliru menghapus konten tentang masjid al-Aqsa di Yerusalem yang menampilkan polisi keamanan Israel melakukan bentrok dengan jamaah.

          Dilansir Al Arabiya pada Kamis (20/5), Thomson Reuters Foundation juga melaporkan Instagram dan Twitter menyalahkan gangguan atas penghapusan unggahan yang menyebutkan kemungkinan penggusuran warga Palestina dari Yerusalem Timur. Facebook telah melarang Hamas dari platformnya dan menghapus konten yang memujinya.

          Namun kritik ini telah ditanggapi dengan pusat operasi baru Facebook yang dikelola oleh para ahli, termasuk penutur asli bahasa Arab dan Ibrani. Facebook yang berbasis di Kalifornia, AS telah dikritik di masa lalu karena kurangnya keahlian bahasa lokal dan sumber daya di tengah situasi kekerasan di negara lain.

          Facebook juga mengumumkan telah mendirikan pusat operasi khusus untuk menanggapi konten tentang konflik Israel-Palestina di tengah kekerasan di wilayah tersebut. Sebab, informasi yang salah, ujaran kebencian, dan seruan untuk melakukan kekerasan tentang konflik telah beredar di platform media sosial.

“Pusat operasi ini memungkinkan kami untuk memantau situasi dengan cermat sehingga kami dapat menghapus konten yang melanggar standar komunitas kami lebih cepat sambil mengatasi kemungkinan kesalahan dalam pelaksanaan,”

Wakil Presiden Kebijakan Konten Facebook Monika Bickert.

          Tim pemeriksa fakta Reuters telah menyanggah gambar yang dibagikan di Facebook, Twitter, dan Instagram yang secara palsu mengeklaim terkait dengan konflik tersebut. The New York Times melaporkan pada Rabu bahwa ekstremis Yahudi telah membentuk kelompok baru di WhatsApp yang bertujuan melakukan kekerasan terhadap warga Palestina.

“Sebagai layanan perpesanan pribadi, kami tidak memiliki akses ke konten obrolan pribadi orang-orang meskipun ketika informasi dilaporkan kepada kami, kami mengambil tindakan untuk memblokir akun yang kami yakini mungkin terlibat dalam menyebabkan kerusakan yang akan segera terjadi,” 

ujar juru bicara WhatsApp.

          Hingga saat ini masih diisukan apabila Facebook terus mendapat rating yang buruk, bukan tidak mungkin aplikasi social media terbesar di dunia ini akan disingkirkan dari Play Store. Setidaknya dibutuhkan hingga 100 ribu pengguna di Play Store untuk memberikan ulasan bintang satu di Facebook, yang diyakini akan membuat aplikasi ini dapat ‘disingkirkan’ oleh Google.

Sumber :

– pontianak.tribunnews.com
– www.republika.co.id

Divisi Komunikasi dan Informasi
Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi
Universitas Tanjungpura
2020/2021


Administrator

HMSI (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *