Pernah merasakan aplikasi seringkali mengalami update tapi bug tidak kunjung hilang?

Setiap kali sebuah aplikasi merilis pembaruan, kita sebagai pengguna tentu mengharapkan pengalaman yang lebih baik. Pembaruan biasanya dilakukan untuk menambahkan konten baru, meningkatkan kinerja sistem, hingga memperbaiki bug yang ada. Namun pada kenyataannya, tidak jarang bug pada sebuah aplikasi tetap bertahan meskipun telah melewati berbagai pembaruan sistem. Bahkan, masalah baru yang sebelumnya tidak ada justru dapat muncul setelah pembaruan dilakukan.

Pada akhirnya, bug pada aplikasi bukan hanya persoalan teknis kecil semata. Di balik sebuah aplikasi yang kompleks, tersusun dari ribuan bahkan lebih baris kode yang membentuk setiap fungsionalitas yang ada pada aplikasi. Sebuah kesalahan kecil yang menyebabkan bug tersebut dapat bertahan dan terus muncul kembali, meskipun pembaruan aplikasi terus dilakukan.

Sebenarnya Apa Itu Bug?

Istilah bug muncul dari tokoh bernama Grace Brewster, seorang ilmuwan komputer asal Amerika. Pada masa awal pengembangan komputer, Grace Brewster menemukan serangga yang terjebak di dalam relay komputer lalu menyebabkan fungsi komputer tersebut terhambat. Istilah bug tersebut akhirnya menjadi istilah untuk menggambarkan kondisi ketika terjadi kesalahan pada sistem yang menyebabkan suatu sistem atau aplikasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam praktiknya, terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan munculnya bug pada aplikasi. Salah satu penyebab yang paling umum adalah human error, yaitu kesalahan yang dilakukan oleh manusia dalam proses pengembangan sistem. Kesalahan ini dapat berupa kesalahan penulisan kode (syntax error), alur logika yang keliru (logical error), maupun bentuk kesalahan lainnya. Kesalahan kecil tersebut dapat memicu dampak yang lebih besar pada sistem secara keseluruhan, layaknya efek domino.

Selain faktor manusia, bug juga dapat muncul akibat masalah kompatibilitas antara aplikasi dan sistem operasi pada perangkat pengguna. Tidak semua perangkat atau sistem operasi mendukung setiap aplikasi. Ketika aplikasi dijalankan pada lingkungan yang tidak sepenuhnya kompatibel, potensi terjadinya bug akan meningkat.

Kenapa Bug Bisa Tetap Ada Walau Aplikasi Terus Update?

Pembaruan aplikasi tidak selalu ditujukan untuk memperbaiki bug. Pembaruan bisa saja dilakukan untuk tujuan lain, seperti penambahan konten baru atau peningkatan performa aplikasi. Tanpa melalui proses pengujian aplikasi yang menyeluruh, bug yang ada sering kali tidak terdeteksi. Oleh karena itu, pembaruan aplikasi yang dilakukan secara berkala tidak selalu menjamin bahwa seluruh bug dapat diatasi.

Selain itu, kemungkinan munculnya bug akan tetap ada setiap kali sebuah aplikasi diperbarui. Hal tersebut dikarenakan pembaruan yang dilakukan dapat menimbulkan konflik dengan bagian sistem aplikasi yang sudah ada sebelum pembaruan. Perubahan pada struktur sistem juga memiliki potensi untuk menyebabkan fungsionalitas tertentu pada aplikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Bug juga dapat berasal dari cache dan data lama yang masih tersimpan pada perangkat pengguna. Ketika aplikasi versi terbaru mencoba mengakses data dari versi sebelumnya, ketidaksesuaian data atau konflik dengan kode baru dapat terjadi. Kondisi ini berpotensi memicu gangguan sistem meskipun pembaruan aplikasi telah berhasil dilakukan.

Bagaimana Mendeteksi Bug?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bug tidak selalu dapat terdeteksi secara otomatis. Keberadaan bug sering kali baru diketahui melalui berbagai sumber, seperti laporan pengguna, data kesalahan (error data), log sistem, maupun hasil pengujian sistem. Maka dari itu, untuk menemukan dan menangani bug secara lebih terstruktur, diperlukan proses pelacakan bug (bug tracking).

Dalam sistem pelacakan bug, data memegang peran yang sangat penting. Salah satu komponen utamanya adalah database yang digunakan untuk mencatat informasi mengenai bug yang telah ditemukan. Data tersebut dapat mencakup waktu bug dilaporkan, tingkat keparahan, perilaku sistem yang tidak semestinya, hingga langkah-langkah untuk mereproduksi kesalahan tersebut. Tanpa pencatatan data yang baik, proses pelacakan dan perbaikan bug akan menjadi jauh lebih sulit.

Kompleksitas pada sistem modern membuat pelacakan bug menjadi lebih penting. Apa pentingnya? Menurut laporan dari Consortium for IT Software Quality (CISQ): “Bahkan jika hanya sebagian kecil, yaitu 10%, dari kesalahan ini yang serius, maka aplikasi yang relatif kecil yang terdiri dari 20.000 baris kode akan memiliki sekitar 200 kesalahan pengodean yang serius.” Itu artinya, untuk menemukan kesalahan kecil di antara ribuan baris kode bukanlah hal yang mudah. Bug perlu dilacak dan segera ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius bagi aplikasi.

Pentingnya Pengujian Aplikasi

Bug yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar pada aplikasi. Layaknya efek domino, kesalahan kecil yang muncul pada satu bagian sistem dapat memicu gangguan pada bagian lain. Dalam banyak kasus, permasalahan besar yang terjadi pada sistem dalam aplikasi sebenarnya dapat dicegah dengan menangani bug yang muncul pada tahap awal pengembangan. Oleh karena itu, penting untuk memahami potensi dampak dari setiap bug yang terjadi, meskipun terlihat sepele.

Selain penanganan, tindakan pencegahan juga perlu dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan sistem. Salah satu upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pengujian secara berkelanjutan (continuous testing). Pengujian dilakukan pada setiap tahap pengembangan sistem agar kesalahan dapat terdeteksi lebih awal dan dipantau secara lebih efisien. Proses pengujian perangkat lunak berperan penting dalam mengisolasi serta mengurangi potensi kesalahan sebelum sistem digunakan secara luas.

Pada akhirnya, pembaruan aplikasi tidak selalu dapat menyelesaikan bug yang ada. Proses pembaruan aplikasi merupakan perbaikan yang terus berjalan. Di balik setiap update, terdapat sistem informasi yang melibatkan manusia, data, proses, dan teknologi yang saling bergantung satu sama lain. Selama kebutuhan pengguna terus berubah dan sistem terus berkembang, potensi kesalahan akan selalu ada.

Divisi Komunikasi dan Infomasi

Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Tanjungpura 2025/2026


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *