Inget gak sama artikel-artikel sebelumnya seperti cara memanfaatkan Claude AI, AI chatbot seringkali menjadi topik utama dalam pembahasan mengenai kecerdasan buatan. Kita sudah memahami bahwa ciri utama dari AI chatbot adalah kemampuannya dalam melakukan percakapan dengan pengguna. AI chatbot dirancang untuk merespon pertanyaan, memberikan informasi, membantu menjelaskan suatu konsep, hingga menghasilkan teks berdasarkan instruksi yang diberikan.

Namun, sebanyak apapun informasi yang diberikan oleh AI chatbot, perannya tetap terbatas pada level komunikasi. AI chatbot tidak benar-benar melakukan tindakan nyata di perangkat kita. Dengan kata lain, chatbot membantu kita berpikir dan mendapatkan informasi, tetapi belum benar-benar “bekerja” untuk kita. Tapi apa yang terjadi jika memang ada AI yang dapat melakukan tindakan nyata? Itulah namanya Agentic AI yang satu di antaranya sedang ramai diperbincangkan yaitu OpenClaw.

Berbeda dari AI chatbot, selain mampu memahami instruksi dan memberikan respons, AI Agent juga dapat mengeksekusi tugas secara langsung di perangkat. Seperti contohnya membuka aplikasi, mengelola file, mengirim email, bahkan mengotomatisasi serangkaian pekerjaan tanpa harus diarahkan langkah demi langkah.

Apa Itu OpenClaw?

Lalu, apa sebenarnya OpenClaw? OpenClaw yang juga akrab dijuluki “Molty” dibuat oleh Peter Steinberger, pendiri PSPDFKit dan telah difavoritkan oleh lebih dari 68.000 orang di GitHub. Jumlahnya terus bertambah, menunjukkan besarnya minat komunitas teknologi terhadap pengembangannya.

OpenClaw merupakan sebuah Agentic AI open-source berbasis TypeScript yang dirancang untuk membangun agen AI otonom yang dapat berjalan secara lokal di perangkat komputer pengguna. Artinya, sistem ini tidak hanya bekerja sebagai layanan berbasis percakapan, tetapi benar-benar beroperasi langsung di dalam perangkat dan memiliki akses terhadap sistem yang digunakan.

Melalui sebuah ilustrasi sederhana, bayangkan ketika kita sedang berada di luar rumah dan tidak membawa laptop, sementara kita membutuhkan sebuah file penting yang hanya tersimpan di laptop tersebut. Dalam kondisi seperti itu, kita dapat mengirim pesan kepada OpenClaw melalui aplikasi pesan di ponsel seperti WhatsApp untuk memintanya mengirimkan file yang dibutuhkan. OpenClaw yang berjalan di laptop akan menerima instruksi tersebut, mengakses file yang dimaksud, lalu mengirimkannya sesuai perintah yang diberikan.

Contoh tersebut menunjukkan bagaimana OpenClaw sebagai agentic AI mampu bertindak dan mengeksekusi tugas secara otonom di dunia nyata. Jika dianalogikan, OpenClaw bukan sekadar asisten yang menunggu perintah dan memberikan jawaban, melainkan seperti seorang karyawan digital yang dapat bekerja aktif serta menyelesaikan rangkaian tugas tanpa harus dipandu secara terus-menerus.

OpenClaw memiliki kemampuan untuk membaca dan membuat file, serta menjalankan skrip atau perintah langsung di dalam sistem operasi. Akses yang mendalam ini memungkinkan AI untuk berinteraksi dengan aplikasi lain di komputer layaknya manusia yang sedang mengoperasikan komputer.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Lalu, bagaimana caranya OpenClaw bisa berjalan sendiri di komputer pengguna layaknya seorang karyawan aktif?

Secara sederhana, OpenClaw bekerja sebagai penghubung atau gateway antara aplikasi pengirim pesan, model AI (seperti GPT-4 atau Claude), dan sistem operasi di komputer pengguna. Ia menjadi jembatan yang menerjemahkan perintah berbentuk pesan menjadi tindakan nyata di dalam mesin.

Ketika pengguna mengirim instruksi melalui aplikasi pengirim pesan seperti WhatsApp, Telegram, atau bahkan langsung dari terminal, OpenClaw akan menerima pesan tersebut dan memprosesnya. Setelah itu, agen AI akan menjalankan perintah di komputer mulai dari mencari file, mengeksekusi skrip, membaca log sistem, atau melakukan tindakan lain sesuai instruksi.

Sistem gateway ini terus berjalan di latar belakang komputer. Tugasnya adalah menjaga koneksi dengan aplikasi pesan tetap aktif, menerjemahkan percakapan menjadi perintah sistem (shell), serta mengoordinasikan kerja agen AI agar semuanya berjalan sesuai alur.

Berdasarkan DataCamp, secara umum OpenClaw akan melalui alur seperti ini ketika pesan dikirim,

  • Pesan akan masuk melalui WhatsApp (menggunakan protokol Baileys), Telegram (Bot API), Discord, iMessage, atau CLI.
  • Gateway meneruskan pesan tersebut ke agen internal bernama Pi, yaitu agen eksekusi yang dapat menjalankan perintah sistem atas nama pemilik perangkat.
  • Pi mengirimkan instruksi ke penyedia model AI yang telah dikonfigurasi.
  • Model AI membalas dengan langkah-langkah atau instruksi teknis.
  • Pi mengeksekusi instruksi tersebut langsung di komputer lokal.
  • Hasilnya kemudian dikirim kembali melalui Gateway ke aplikasi chat yang digunakan.

Satu hal penting adalah seluruh proses yang ada hanya berjalan di mesin lokal pengguna. Data tidak berpindah ke tempat lain kecuali ketika memang dikirim ke API model AI yang telah dikonfigurasi. Artinya, kontrol tetap berada di tangan pengguna.

Keunggulannya Apa Aja?

Ada beberapa keunggulan. Pertama, kemampuannya untuk beroperasi secara mandiri di perangkat milik pengguna. OpenClaw tidak hanya berjalan di latar belakang, tetapi juga dapat mengendalikan peramban web untuk menjelajahi situs, mengisi formulir, mengekstrak data dari website, hingga memanipulasi file di dalam sistem. Agen pintar ini mampu membaca dan menulis file, serta menjalankan berbagai perintah langsung di komputer sesuai kebutuhan.

Kedua adalah kemudahan penggunaan yang ditawarkannya. OpenClaw dapat diintegrasikan dengan berbagai aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, Telegram, Discord, Slack, Signal, dan iMessage. Lalu pengguna dapat memberikan instruksi pada OpenClaw tanpa harus menggunakan perintah coding atau sintaks tertentu. Pengguna cukup menjelaskan tugas melalui percakapan biasa.

Ketiga, OpenClaw memiliki kemampuan persistent memory atau memori jangka panjang yang memungkinkan sistem mengingat detail percakapan sebelumnya. Ia dapat belajar dari pola kebiasaan pengguna seiring waktu. Memori ini membuat OpenClaw mampu menjaga kesinambungan tugas yang sedang berjalan, mengingat instruksi terdahulu, serta mendukung kolaborasi jangka panjang yang terasa lebih alami.

Keempat, OpenClaw dapat meningkatkan kemampuannya sendiri dengan menulis kode secara mandiri untuk menciptakan skill baru yang relevan dengan kebutuhan pengguna. Dengan kata lain, ia tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga mampu memperluas fungsinya secara otonom.

Kelima, OpenClaw menerapkan otomatisasi proaktif. Sistem ini dapat memulai percakapan terlebih dahulu dengan mengirim notifikasi, konfirmasi, atau pengingat ketika suatu kondisi berubah atau ketika sebuah tugas sedang berjalan. Ia juga dapat menindaklanjuti pekerjaan yang belum selesai dan mengelola proses di belakang layar. Dengan begitu, pengguna tidak perlu terus-menerus mengecek progres secara manual dan dapat lebih fokus pada hal lain yang lebih penting.

Lalu Bagaimana Cara Menggunakannya?

AI OpenClaw berjalan secara self-hosted, artinya sistem ini dihosting dan dijalankan sendiri di infrastruktur milik pengguna, bukan di server pihak ketiga. Karena itu, ada beberapa persyaratan sistem yang perlu diperhatikan sebelum menggunakannya.

OpenClaw membutuhkan Node.js sebagai lingkungan runtime. Untuk sistem operasi, OpenClaw secara native mendukung macOS dan Linux. Sementara itu, pengguna Windows perlu menggunakan WSL2 (Windows Subsystem for Linux) agar dapat menjalankannya dengan optimal. WSL2 bekerja dengan baik, tetapi memang membutuhkan sedikit proses konfigurasi tambahan di awal.

Selanjutnya, jika ingin OpenClaw tetap aktif dan selalu siap menerima perintah, maka dibutuhkan perangkat yang menyala selama 24 jam sebagai “rumah” bagi agen tersebut. Banyak pengguna memilih perangkat hemat daya seperti Mac Mini atau Raspberry Pi yang dibiarkan dalam kondisi standby di rumah. Alternatif yang lebih praktis adalah menggunakan VPS (Virtual Private Server) berbiaya terjangkau, sehingga tidak perlu membiarkan komputer pribadi menyala terus-menerus.

Setelah perangkat tersedia maka langkah berikutnya adalah melakukan proses instalasi OpenClaw pada sistem yang akan digunakan. Proses ini umumnya dilakukan melalui terminal dengan mengikuti dokumentasi resmi yang tersedia.

Setelah instalasi selesai, pengguna perlu memasukkan token API dari model LLM yang ingin digunakan, seperti GPT-4 atau Claude, serta menghubungkannya dengan saluran komunikasi aplikasi perpesanan yang dipilih.

Perlu dicatat bahwa OpenClaw sendiri bersifat gratis dan open-source dengan lisensi MIT. Biaya yang muncul biasanya berasal dari penggunaan token API model AI yang digunakan, karena layanan model tersebut umumnya bersifat berbayar sesuai pemakaian.

Penutup

OpenClaw merepresentasikan evolusi AI dari sekadar chatbot percakapan menjadi agen AI otonom yang mampu bekerja langsung di perangkat pengguna mulai dari membaca file, menjalankan perintah, hingga mengelola tugas secara mandiri. Namun, di balik kecanggihannya, tentu perlu tanggung jawab dan kehati-hatian dalam penggunaannya karena tetap terdapat kelemahan yang perlu diperhatikan seperti akses sistem yang sangat dalam berpotensi menimbulkan risiko keamanan.

Divisi Komunikasi dan Infomasi

Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Tanjungpura 2025/2026


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *